Kamis, 01 Oktober 2015

Give of Your Best

Diriwayatkan, disepertiga malam terakhir, keadaan yang masih terbalut gelap dan hawa dingin, Aisyah ra, mendapati suaminya, Rasulullah SAW sedang mengerjakan shalat Tahajjud. Seingatnya, Nabi SAW mengerjakannya sejak tengah malam tadi. Dan pencahayaan ruangan yang samar dari lampu minyak yang kecil yang berbaur dengan cahaya bulan penuh yang menerobos lewat sela-sela dinding, kedua kaki Nabi SAW terlihat bengkak.

“Ya, Rasulullah, mengapa engkau melakukan ibadah seperti ini, padahal Allah sudah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang? Lebih dari itu, diakhirat nanti, surga adalah tempatmu,” kata Aisyah tatkala Nabi SAW menyelesaikan ibadah malamnya. “Atas nikmat tersebut, tidakkah aku (seharusnya berusaha) menjadi hamba yang banyak bersyukur?” jawab Rasulullah SAW (Hadist Mutaqqun ‘alaih).
Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang pandai berdagang. Saudagar sukses. Beliau telah melakukan perjalanan yang luar biasa. Tak terhitung pergi ke Syria, Yaman, dan daerah lainnya. Hasilnya, dalam usia dua puluhan, Rasulullah SAW telah mencapai kesuksesan besar dalam bisnis. Hingga dalam usia tiga puluhan beliau berhasil melakukan pencapaian yang disebut Robert Toyasaki dengan istilah kebebasan finansial.
Selain itu, Rasulullah SAW juga dikenal dengan al-Amin, orang terpercaya. Hampir semua orang Mekkah mengenal beliau, dan menyukai keluhuran budi pekertinya. Tidak hanya itu, dalam menyampaikan risalah islam, Rasulullah telah melakukan perubahan yang luar biasa. Dalam kurun waktu tak kurang dari 23 tahun beliau berhasil merubah masyarakat Mekkah dan sekitarnya yang waktu itu berperadaban jahiliyah, menjadi masyarakat yang beradab, bersatu, dan bermandikan cahaya rahmat Allah SWT.
Demikianlah, Rasulullah SAW bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu, baik itu dalam soal ibadah dan lainnya. Tak ada yang dibedakan, tak ada perkara yang dilakukan setengah-setengah. Semua pekerjaan dilakukan dengan kesungguhan hati dan kemurnian ikhlas.
Meskipun beliau sebagai Nabi SAW, orang yang paling dikasihi Allah SWT, untuk bisa mencapai semua hal tersebut, bukan dicapai dengan mudah. Ada banyak rintangan, hambatan, dan gangguan yang luar biasa. Menjadi nabi tidak berarti selalu ada kemudahan dari Allah SWT bahkan ujian hidupnya paling berat dibandingkan manusia biasa. Namun, dengan kesungguhan hati, mengerahkan kemampuan terbaik, dan semangat pantang menyerah beliau berhasil melewati semua hambatan tersebut.
Dengan demikian, tidak ada kesuksesan atau keberuntungan yang turun begitu saja. Ia harus diusahakan dengan usaha lahir dan batin. Mengerahkan kemampuan terbaik, dan menggunakan segala yang terbaik. Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan daya upaya seorang hamba, kecil ataupun besar usahanya pasti ada balasannya. Wa Allahu a’lam.

Source : "It's Always Hope" Book

Tidak ada komentar:

Posting Komentar